Warung tegal yang lebih dikenal dengan singkatannya, warteg, umumnya menjadi ‘penyelamat’ bagi anak-anak kos atau masyarakat umum yang ingin membeli makanan dengan harga yang murah.

Gambar warung tegal, warung warteg, warteg franchise, gambar warung tegal

Gambar warung tegal | Sumber foto: resepmakanan-indonesia.com

Tetapi di masa kini, ternyata sudah banyak juga loh pelaku usaha yang membuka restoran dengan embel-embel warteg, dan harga menu yang ditawarkan juga tidak terlalu murah. Warung yang namanya merupakan salah satu kota di Indonesia tersebut seakan dijadikan konsep usaha saja.

Konsep Usaha Seperti Apa?

Apakah kamu pernah berkunjung ke salah satu warteg di daerah asal maupun rantau-mu? Biasanya, warung tersebut identik dengan konsep yang rumahan, juga sederhana.

Ruang makan yang tidak terlalu besar, tetapi menyediakan porsi makanan yang cukup besar. Ditambah juga dengan pilihan menu-nya, yang bisa saling dicampur dalam satu piring sekaligus. Telur dadar, balado atau ceplok, sampai ayam opor atau kecap, beserta segala macam sayur rumahan, biasanya terus diincar oleh para pembeli setia.

aneka kreasi telur dadar, cara membuat telur dadar spesial, bumbu telur dadar sederhana

Telur dadar tebal ala warteg | sumber foto: shopback.co.id

Sebagian besar rumah makan jenis kecil ini juga tidak disertai air conditioner (AC). Biasanya, ruang atau tempat pelanggan makan di sana dekat dengan jendela yang terbuka, atau bahkan lesehan di luar ruangan. Nah, konsep-konsep ini biasanya dikembangkan lagi oleh banyak pebisnis.

Dari menambahkan tempat yang lebih lega untuk konsumen, menambahkan kipas lebih banyak, atau bahkan AC, membuat tempat lesehan tetapi di dalam ruangan (indoor), yang akhirnya menyebabkan beberapa ‘warteg’ harus menaikkan harga menu yang ditawarkannya.

Padahal jika melihat asal-usulnya, sebenarnya kios makan ini diperuntukkan untuk masyarakat menengah ke bawah. Tapi, dengan berkembangnya zaman, lambat laun konsep warteg pun banyak yang bergeser untuk kalangan masyarakat lainnya.

Walaupun terdapat pengembangan konsep dan perbedaan target pelanggan di beberapa warteg, tetapi ada satu kesamaan yang baru-baru ini dialami mereka. Apalagi kalau bukan dampak dari pandemi Covid.

Bagaimana Dampak Covid Terhadap Usaha Warteg?

Dilansir dari detikFinance, menurut Mukroni selaku Ketua Komunitas Warteg Nusantara (Kowantara), di tahun 2021 akan terdapat kurang lebih 20.000 warteg yang gulung tikar atau tutup akibat hambatan finansial. Sedangkan, pada bulan Februari 2021, Kompas mengabarkan bahwa lebih dari 40 warteg di Kota Tangerang sudah tidak beroperasi sejak menyebarnya Covid.

Hal ini tidak mengagetkan, karena memang sejatinya selama virus Corona ini masih tersebar, mobilisasi masyarakat secara langsung akan terus terbatas. Walaupun sudah ada beberapa pihak yang melakukan kegiatan secara offline atau luring kembali, seperti work from office (WFO). Tetapi masih banyak pula masyarakat yang enggan mengunjungi tempat-tempat umum, yang di dalamnya termasuk juga warteg.

Terdapat salah satu survei yang dilakukan oleh Nielsen pada bulan Maret 2020, dengan fokus pola konsumsi masyarakat negara Asia di tengah pandemi. Indonesia pun menjadi salah satu target responden dari pemantauan tersebut.

Studi dan survei Nielsen terhadap sikap konsumer saat pandemi CovidStudi dan survei Nielsen terhadap sikap konsumen saat pandemi Covid | Sumber foto: tim riset Tirto.id

Setelah dilaksanakan, hasil peninjauan tersebut memperlihatkan bahwa 49 persen narasumber di Indonesia, menjadi lebih sering memasak sendiri dibandingkan sebelum wabah Covid-19 masuk ke dalam negaranya. Dilanjutkan dengan 46% responden asal Indonesia juga mengaku mengurangi kegiatan makan di luar. Hal ini membuktikan bagaimana usaha-usaha semacam warteg, yang memang berpegangan pada konsumen yang mencari makanan di luar, menjadi semakin melorot pemasukannya.

Bagaimana Cara Membantu Usaha Warteg?

Kamu tetap dapat membantu kelangsungan pelaku usaha di bidang kuliner ini kok, tanpa harus takut terkena virus Corona. Tetapi gerakan membantu ini juga akan lebih baik dan efektif, jika dilakukan secara kolektif.

1. Kolaborasi

Ilustrasi bisnis katering makanan rumahan, bisnis catering makanan, bisnis catering makan siang, gambar catering rumahan

Gambar catering rumahan | Sumber foto: ruangmom.com

Jika kamu membuka usaha kuliner rumahan (ala ghost kitchen), kamu dapat berkolaborasi dengan warteg di sekitar lokasi usahamu tersebut. Seperti contohnya kamu ingin menambahkan menu ayam opor dalam bisnis catering-mu, tetapi kamu belum mendapatkan resep yang cocok. Sedangkan warung “A” di dekat rumahmu, terkenal dengan ayam opornya.

Kamu bisa menawarkan kerja sama dengan warung “A” itu. Jadi menu ayam opor di usahamu disediakan oleh mereka, dan terdapat pembagian keuntungan. Jadi baik usaha kamu, dan usaha warung “A” juga sama-sama memiliki tambahan pendapatan.

2. Digitalisasi dengan Wahyoo

Logo Wahyoo

Logo Wahyoo | Sumber foto: LinkedIn Wahyoo

Kamu juga dapat mengenalkan Wahyoo pada para pelaku usaha warteg. Wahyoo merupakan aplikasi digital yang ingin mendukung kesejahteraan juga keberlanjutan usaha para pedagang rumah makan atau warung. Oleh sebab itu, mereka ingin dan telah merangkul beberapa pedagang dari bidang tersebut untuk menjadi mitranya.

Sudah terdapat lebih dari 16.000 warung makan yang bergabung menjadi mitra Wahyoo, dan mereka dapat menikmati berbagai macam fitur aplikasi tersebut. Seperti membeli kebutuhan warung secara online, mengikuti pelatihan atau program edukasi, memiliki penghasilan tambahan, dan lainnya. Tertarik untuk mendaftarkan kenalanmu atau bahkan dirimu sendiri di Wahyoo? Kunjungi saja website aplikasi ini.

Penulis: Samantha Yohana Blessya

Kategori: Life

kategori-latihid: bisnis